Tinggalkan komentar

[Sinopsis] Scent of A Woman Episode 16 – Final


Sinopsis Scent of A Woman Episode 16 – Final

Akhirnya Yeon Jae bisa menyaksikan pernikahan ibunya dengan Seonsaengnim. Yeon Jae memuji kecantikan ibunya yang dibalut gaun pengantin. Ibu Yeon Jae menangis karena terharu.
“Apa kau tahu bagaimana bahagianya aku? Eomma, jangan menangis. Jika kau bahagia, aku juga bahagia.” Yeon Jae mengusap airmata ibunya.

 

Seonsaengnim juga memuji kecantikan ibu Yeon Jae. Mereka melakukan foto pernikahan. Ji Wook sudah dianggap sebagai bagian dalam keluarga. Ia juga diajak berfoto bersama.
Di kamarnya Yeon Jae memandangi foto pernikahan ibunya.Yeon Jae tampak bahagia dan lega karena telah menemukan pendamping yang pantas untuk ibunya. Ia tak akan cemas lagi meninggalkan ibunya sendirian.

 

Yeon Jae tersenyum sambil melihat ibu dan ayah barunya tengah memasak di dapur. Ibu Yeon Jae menyadari kehadirannya. Yeon Jae berpamitan keluar sebentar. Seonsaengnim berniat mengantarnya, namun Yeon Jae menolak. Yeon Jae meminta mereka menikmati bulan madu saja.


 

Yeon Jae pergi menemui Eun Suk. Eun Suk bertanya mengenai daftar keinginan yang Yeon Jae tulis. Yeon Jae heran mengapa Eun Suk bisa tahu. Seingatnya, Eun Suk tak pernah diberitahunya. Eun Suk berkata bahwa Hee Joo yang memberitahunya. Akhir-akhir ini Yeon Jae mengaku sibuk, jadi list keinginannya belum terpenuhi semua. Yeon Jae berharap kondisinya masih sehat sampai ia bisa menyelesaikan semua daftar keinginannya.
Ji Wook memandangi foto liburannya bersama Yeon Jae di Pulau Jeju. Ketika melihat kalender, Ji Wook merasa sedih. Ji Wook baru menyadari waktu yang dimiliki Yeon Jae semakin berkurang.

 

Yeon Jae datang sambil membawa banyak belanjaan. Yeon Jae berniat memasak untuk Ji Wook. Ji Wook hendak membantu, Yeon Jae langsung melarangnya. Yeon Jae ingin melakukannya sendirian. Ia tak mengizinkan Ji Wook membantunya sama sekali. Tak mau menganggur hanya melihat Yeon Jae memasak, Ji Wook berinisiatif memeluk Yeon Jae saja.

 

Ji Wook kembali membahas tentang ide tinggal bersama. Apalagi sekarang ibu Yeon Jae sudah menikah lagi. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan Yeon Jae. Yeon Jae tetap menolak.

“Bukan seperti itu. Kau juga tahu alasannya.” Yeon Jae memutar tubuhnya menghadap Ji Wook.

“Jika kau mengkhawatirkanku, itu tak perlu. Orang yang aku cintai adalah Lee Yeon Jae. Aku tak hanya mencintai kesehatan Lee Yeon Jae.”
“Kang Ji Wook-ssi, sekarang ini aku sangat bahagia. Aku memiliki orang yang paling aku cintai dalam hidupku. Dan karena orang itu, aku masih bisa memasak. Selain itu, aku masih bisa menyentuhnya seperti ini.” Yeon Jae memegang kedua pipi Ji Wook. “Karena orang yang paling dicintai Kang Ji Wook adalah Lee Yeon Jae. Lee Yeon Jae yang dia tidak bisa hidup tanpanya. Apakah dia tak akan mencintainya?”
Ji Wook tersenyum. Yeon Jae melanjutkan memasak. Ji Wook kembali memeluknya.
Manager Noh menerima award untuk Wando Tour. Manager Noh terlihat sangat bangga. Ia tak berhenti memamerkan senyum lebar ketika sesi pemotretan dan interview. Na Ri dan Joong Hee jengah.

“Mengapa harus Manager yang melakukan interview?” sungut Na Ri.
“Yeah, dia bahkan bukan orang yang membuat rancangannya,” sahut Joong Hee.

Di tengah interview, Manager Noh mendapat telepon dari Yeon Jae. Manager Noh cukup terkejut karena tiba-tiba Yeon Jae mengajak bertemu. Setelah bertemu dengan Yeon Jae, Manager Noh meminta maaf atas perlakuan buruknya selama di perusahaan. Ternyata Manager Noh takut Yeon Jae menceritakan keburukannya di depan Ji Wook. Semua orang di Line Tour tahu bahwa Yeon Jae adalah kekasih Ji Wook. Manager Noh takut dirinya dipecat. Ia meminta pengertian Yeon Jae. Yeon Jae mengerti. Tujuannya bertemu Manager Noh bukan untuk itu. Yeo Jae menyerahkan proposal program tour baru, Comfortable Travel.
“Mengapa kau memberikan ini padaku?” tanya Manager Noh.
“Waktu itu ketika ibu Manger Noh meninggal, aku membuat itu dalam perjalanan pulang setelah melayat. Meskipun kau bekerja di travel agency. Sampai ibumu meninggal, kau lupa membawanya pergi liburan. Ketika melihat Manager menangis, aku juga memikirkan ibuku,” ucap Yeon Jae.
Manager Noh menyerahkan proposal pemberian Yeon Jae pada Ji Wook. Ji Wook memuji isi proposal itu.

“Sangat bagus. Apa kau yang membuatnya sendiri?” tanya Ji Wook.

Manager Noh terdiam. Ia terlihat ragu-ragu, tapi kemudian menjawab iya. Ji Wook meminta Manger Noh memproses program itu secepatnya. Merasa bersalah, Manager Noh akhirnya mengaku bahwa Yeon Jae lah orang yang membuat proposal itu.
Yeon Jae mengajak ibunya dan Seonsaengnim makan malam di restoran mahal. Yeon Jae memesan lobster untuk makan malam mereka.
Ji Wook menyusul Yeon Jae. Yeon Jae keluar menemui Ji Wook.

 

Ji Wok protes.
“Mengapa kau memberikan proposalmu pada Manager?”
“Bagaimanapun, aku ingin itu di launching. Aku tak ingin itu menjadi sia-sia.”
“Jika aku, aku akan melakukannya sendiri,” kritik Ji Wook.
“Kau tahu aku sudah resign.”
“Mengapa tak kembali ke perusahaan?”
“Bagaimana bisa?” sahut Yeon Jae.
“Aku akan merekomendasikanmu bekerja kembali. Dan karena program Wando itu adalah idemu semua, mereka akan mengerti.”
“Tak perlu.”
“Disana tak ada seorangpun yang mempunyai ide sepertimu. Mengapa kau tak memikirkan perusahaan kami,” rayu Ji Wook.
“Aku sama sekali belum memikirkannya. Tapi begitu aku memulai, aku takut tak sanggup menyelesaikannya. Karena aku sakit, aku tak bisa menghindari merugikan orang lain.”
“Itu akan baik-baik saja selama tak merugikan yang lain. Jika kau ingin melakukannya, lebih baik kau melakukannya untukmu sendiri. Aku akan mencoba yang terbaik agar kau kembali ke perusahaan.”
Ji Wook meminta persetujuan Eun Suk. Ji Wook khawatir tubuh Yeon Jae tak kuat jika harus kembali bekerja. Eun Suk yakin jika Yeon Jae pasti akan kelelahan harus bekerja di perusahaan besar, tapi Eun Suk setuju dengan ide Ji Wook.

 

Ji Wook membawa proposal Yeon Jae pada ayahnya. Presiden Kang setuju dengan proposal itu. Ji Wook berkata jika proposal itu bukan dibuat oleh karyawan Line Tour. Presiden Kang langsung bisa menebak jika Yeon Jae yang membuat proposal itu. Presiden Kang murka. Terlebih lagi ketika Ji Wook berniat mempekerjakan Yeon Jae kembali ke perusahaan.
“Bagaimana bisa membawa wanita yang hanya memiliki beberapa bulan hidup ke dalam perusahaan,” seru Presiden Kang.
“Itu terlalu kejam,” sahut Ji Wook.
“Jika kau menjadi aku, kau pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Bagaimana jika ayahmu didiagnosa seperti itu juga? Dalam situasi itu, aku akan berkata pada ayahku jangan melakukan apapun dan hanya tinggallah dikamar. Jika itu terjadi, kau tak akan mengatakan apa yang barusan kau katakan, kan?” sindir Ji Wook tajam.
Yeon Jae pergi bekerja. Ibu Yeon Jae kesal dan tak setuju putrinya kembali bekerja. Yeon Jae meredam kemarahan ibunya dengan mengatakan bahwa dirinya akan baik-baik saja. Ibu Yeon Jae juga kesal karena Ji Wook tak datang menjemputnya. Yeon Jae berkata mereka harus bersikap profesional. Pekerjaan dan hubungan asmara harus dipisahkan. Seonsaengnim ikut mendinginkan kemarahan ibu Yeon Jae. Ia tertawa melihat kemarahan istrinya yang baru pertama kalinya dilihatnya.

 

Si Kakek kembali merecoki ibu Yeon Jae dan Seonsaengnim. Kakek heran mengapa Seonsaengnim mau tinggal dirumah sewa istrinya yang kecil. Seonsaengnim membalas dengan bertanya mengapa kakek bisa betah tinggal sendirian. Kakek langsung meradang. Untuk mengakrabkan diri Seonsaengnim mengajak kakek bermain catur.

 

Yeon Jae masuk ke kantor Line Tour. Ji Wook memberinya semangat lewat MMS. Manager Noh menyambut Yeon Jae dengan ramah. Semua staff heran dibuatnya. Na Ri dengan angkuh bertanya apa yang membuat Yeon Jae kembali ke Line Tour.
Ketika meeting semua staff tahu alasan Yeon Jae kembali ke Line Tour. Yeon Jae kembali menggagas program tour baru.
“Aku sudah melihat orang masuk melalui ayah mereka, tapi ini baru pertama kalinya aku melihat seseorang masuk karena pacar mereka,” sindir Na Ri tajam.
“Sejujurnya Kepala Direktur sedikit berlebihan, kau tahu…” sahut Joong Hee.
Yeon Jae hanya tersenyum, mencoba bersabar mendengar sindiran rekan sekerjanya. Hye Won terlihat kesal. Manager Noh langsung menengahi.
“Kalian tak perlu mengatakan sejauh itu. Dia bekerja kembali hanya untuk sementara,” bela Manager Noh. Semua staff kembali memandangnya heran. Manager Noh langsung menunduk.
“Na Ri dan Joong Hee, bukankah kalian suka dengan proposal ini?” tanya Yeon Jae.
“Itu…bukan itu maksudku.” Na Ri mencoba meralat ucapannya barusan.
Tak mau memperpanjang masalah, Yeon Jae menyarankan mereka segera memulai meeting. Selesai meeting, Yeon Jae berniat mentraktir makan siang semua rekannya.

 

Yeon Jae dan rombongan staff Line Tour pergi makan siang. Yeon Jae berpapasan dengan Presiden Kang di depan lift. Presiden Kang menatapnya tajam. Yeon Jae terpaku. Presiden Kang tak mengizinkan rombongan Yeon Jae masuk ke dalam lift. Presiden Kang memerintahkan sekretaris-nya menutup pintu lift.

 

Ketika makan siang Na Ri menginterogasi hubungan Yeon Jae dengan Ji Wook. Setelah melihat sikap Presiden Kang barusan, Na Ri yakin hubungan mereka tak disetujui.
“Bagaimana Presiden terhadap hubungan kalian?” tanya Na Ri.
“Aku sebenarnya tak cukup mengerti kenapa. Apa ada yang salah denganku? Tapi apa yang bisa kukatakan? Sudah pasti dia menentang kami karena aku tidak memiliki apapun.”
“Itu sudah pasti,” sahut Na Ri senang.
“Tapi bagaimana kau memulai dengan Kepala Direktur?” tanya Joong Hee penasaran. Na Ri juga ingin tahu.
“Setelah aku mengundurkan diri dari perusahaan, aku pergi berlibur. Disana kami dipertemukan oleh takdir,” ungkap Yeon Jae.
Na Ri dan Joong Hee terlihat iri.
“Hanya karena kau bertemu dengannya karena takdir, semua berjalan dengan sendirinya?” kritik Joong Hee.
“Dia pasti merayunya tanpa henti. Jika kau mencoba lebih keras, kau pasti juga mampu mendapatkan Kepala Direktur,” sahut Na Ri kesal.
Kepala Bagian Yoon patah hati.
“Bong Gil, kau harus mengumpulkan keberanianmu untuk mencoba,” nasehat Manager Noh.
“Seharusnya kalian berkencan diluar. Mengapa kalian berkencan juga didalam kantor?” protes Na Ri.
“Aku tidak kembali untuk bekerja, jadi aku bisa berkencan. Aku selalu ingin mempunyai travel package dengan namaku sendiri. Itulah mengapa aku membuat program ini. Bagaimanapun karena ada kesempatan bagiku untuk melakukannya. Aku pasti akan melakukan yang terbaik.”
“Aku kira aku adalah orang yang memberikanmu kesempatan ini, kan?” ucap Manager Noh bangga. Sekali lagi semua staff memandang Manager Noh. Manager Noh langsung bungkam.

 

Presiden Im berniat menjodohkan So Kyeong dengan putra chaebol lain. So Kyeong menolak. So Kyeong berencana melanjutkan hubungan bisnis dengan Line Tour. Presiden Im keberatan. So Kyeong tak ingin ayahnya mencampuri urusan asmaranya dengan bisnis. Untungnya Presiden Im mengerti.

 

So Kyeong pergi ke kantor Line Tour. Ia berpapasan dengan Na Ri dan Joong Hee yang langsung menggosipkannya. Begitu mendapat tatapan tajam So Kyeong, Na Ri dan Joong Hee langsung kabur. Ji Wook muncul. Mereka membicarakan kerjasama di kantor Ji Wook. Setelah selesai, So Kyeong berpamitan.
“Untuk waktu itu, terimakasih. Dan juga aku minta maaf,” ucap Ji Wook atas bantuan So Kyeong melepaskan  dirinya dan Yeon Jae dari ancaman Presiden Im.
“Tak perlu. Ayahku akan mengenalkan seseorang yang lebih baik dari Kang Ji Wook-ssi,” sahut So Kyeong.
So Kyeong meminta Ji Wook menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Presiden Kang. Ji Wook menyalami So Kyeong.
“Mengapa bersikap sepertinya kita tak akan bertemu lagi,” ucap So Kyeong. So Kyeong mengulurkan tangannya lalu segera melepaskannya. So Kyeong keluar dari kantor Ji Wook sambil menahan tangis.

Yeon Jae memperlihatkan sebuah sweeter dalam kotak kado pada Ji Wook.

“Meskipun bukan style-ku, tapi aku cukup senang. Kau bisa memakainya selama 30 tahun,” komentar Ji Wook.

Yeon Jae tersenyum. “Itu bukan untuk Ji Wook.”
Ji Wook langsung terdiam.
“Apakah ini hadiah ulang tahun untuk ayahku?” terka Ji Wook.
“Ya.” Yeon Jae mengangguk.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku bekerja di Line Tour selama 10 tahun.”
“Tak perlu.” Ji Wook menutup kotak itu.
“Kenapa tidak? Kau tak suka aku memberikan hadiah ulang tahun untuk ayahmu?” protes Yeon Jae.
“Bukan seperti itu.”

“Aku ingin memberikan hadiah itu sendiri. Tapi jika aku muncul, dia akan marah. Kau tahu dimana kau berada? Beraninya kau datang? Aku tak ingin merusak hari ulang tahunnya.” Yeon Jae kembali meminta Ji Wook menyerahkan hadiah itu untuk Presiden Kang. Akhirnya Ji Wook menyanggupi.

 

Yeon Jae masuk ke kamar setelah Ji Wook pulang. Ibu Yeon Jae bertanya mengapa Ji Wook bertanya mengapa Ji Wook sudah pulang. Yeon Jae memberitahu jika ayah Ji Wook sedang berulang tahun. Ibu Yeon Jae mendekat.
“Kau tak usah sedih. Kau berkencan dengan Ji Wook, bukan ayahnya,” nasehat ibu Yeon Jae. Yeon Jae tersenyum.

 

Wajah Yeon Jae sedikit pucat. Ibu Yeon Jae khawatir. Yeon Jae mengaku hanya sedikit lelah. Ibu Yeon Jae langsung ingin membawa putrinya ke rumah sakit. Yeon Jae menolak. Ibu Yeon Jae mengomel, pasti Yeon Jae kelelahan akibat kembali bekerja. Yeon Jae berkata bahwa ia senang kembali bekerja disana. Yeon Jae meminta ibunya memeluk dirinya. Ibu Yeon Jae naik ke ranjang dan memeluk putrinya.
Ji Wook pergi ke rumah ayahnya membawa kado ulang tahun titipan Yeon Jae. Presiden Kang tengah minum-minum. Ji Wook meletakkan kotak kado itu diatas meja. Seperti kekhawatiran Ji Wook, Presiden Kang langsung membuang kotak kado itu. Ji Wook mengambil kotak itu dan kembali meletakkan diatas meja.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?” seru Presiden Kang marah.
“Awalnya aku tak ingin datang. Aku datang kesini karena dia yang memintaku menyerahkan ini untukmu,” jawab Ji Wook.
“Apa? Putra tunggalku jatuh cinta pada wanita pengidap kanker untuk mengkhianati ayahnya. Apa hebatnya wanita itu? Tak ada yang bisa dilihat,” cela Presiden Kang.
“Aku sangat bahagia ketika aku bersamanya,” ucap Ji Wook.
“Ckckck….kau sungguh bahagia bersama wanita yang mengidap kanker?”
“Ada saat bersedih dan ada saatnya aku ingin menangis. Kadang-kadang hatiku sangat sakit, seperti terkoyak. Tapi aku masih sangat bahagia. Dulu aku sangat membosankan dan tak mempunyai kesenangan dalam hidup. Aku tak peduli tentang kematian, hal itu bahkan datang ke pikiranku. Tapi itu berbeda sekarang. Karena dia, aku benar-benar ingin hidup.”
Ji Wook mengeluarkan surat milik ibunya. “Ini adalah hadiahnya. Aku berhutang padanya untuk surat ibu yang aku temukan. Ibu memintaku tak membencimu.”
Setelah memberikan surat itu Ji Wook pergi. Presiden Kang termenung sambil memandangi surat itu.
Yeon Jae memeluk ibunya sebelum berangkat kerja. Ibu Yeon Jae kembali cemas karena menyadari tubuh Yeon Jae demam. Yeon Jae menyentuh wajahnya. Ia mengaku hanya gugup. Yeon Jae buru-buru pergi.
Seluruh staff Line Tour sedang harap-harap cemas menanti reaksi masyarakat dari peluncuran program tour baru, Comfortable Travel. Tak lama Na Ri berseru. Dia mendapat pemesan pertama via online. Semua staff senang dan bertepuk tangan. Detik berikutnya, Joong Hee menerima 2 pemesan sekaligus. Peluncuran program mereka terbilang sukses. Ji Wook juga senang. Ia mentraktir makan siang seluruh staff.
Yeon Jae berdiri diatap gedung. Ji Wook menyusulnya.
“Lee Yeon Jae-ssi, kau sudah bekerja keras,” puji Ji Wook.
“Kamsahamnida,” balas Yeon Jae.
“Bagaimana perasaanmu?”
“Bagus, tapi dengan sedikit penyesalan. Seharusnya aku tak mengatakan bahwa aku hanya ingin bekerja untuk proyek ini,” keluh Yeon Jae.
“Katakan padaku kapanpun jika kau ingin kembali bekerja. Kau pegang janjiku. Aku ini Kepala Direktur,” ucap Ji Wook.
Yeon Jae tertawa. Ji Wook merangkul pundak Yeon Jae. Yeon Jae langsung menoleh kanan dan kiri. Takut ada yang melihat kebersamaan mereka berdua. Merasa aman, Yeon Jae merebahkan kepalanya di bahu Ji Wook.

 

Ji Wook dan seluruh staff merayakan keberhasilan program tour baru mereka. Joong Hee menyadari wajah Yeon Jae sedikit pucat. Ji Wook menatap tajam Yeon Jae. Yeon Jae menutupi kondisinya yang mulai drop. Ia berpamitan ke toilet dengan diikuti tatapan wajah cemas Ji Wook.

 

Yeon Jae pergi keluar. Yeon Jae merasa kelelahan. Ji Wook menyusul Yeon Jae.
“Ada apa? Apa kau kesakitan?” tanya Ji Wook cemas.
Yeon Jae menggeleng. “Tidak. Aku hanya merasa sedikit panas. Aku perlu menghirup udara segar.”
Wajah Yeon Jae yang semakin pucat tak bisa membohongi Ji Wook. Ji Wook memeriksa dahi Yeon Jae.
“Kau sangat panas…” seru Ji Wook.
Tiba-tiba saja Yeon Jae jatuh pingsan. Ji Wook panik. Ji Wook segera membopong Yeon Jae. Hye Won muncul. Dia juga panik melihat Yeon Jae pingsan dalam gendongan Ji Wook.
“Ada apa?”
“Kembalilah ke dalam. Aku akan mengantar Yeon Jae ke rumah sakit.” ucap Ji Wook.

 

Eun Suk berlari secepat kilat begitu dikabari Yeon Jae dilarikan ke rumah sakit. Yeon Jae demam tinggi mencapai 39 derajat. Eun Suk memerintahkan Yeon Jae segera dibawa ke CT Room. Ji Wook mempercayakan sepenuhnya Yeon Jae ditangani Eun Suk.
Hye Won kembali ke dalam restoran. Semua staff menanyakan keberadaan Yeon Jae dan Ji Wook. Hye Won gelisah. Akhirnya Hye Won mengaku jika Ji Wook membawa Yeon Jae ke rumah sakit.
Eun Suk menginformasikan kondisi Yeon Jae pada ibu Yeon Jae, Seonsaengnim dan Ji Wook. Demam Yeon Jae mencapai 40 derajat Celcius. Untunglah Yeon Jae telah melewati masa kritis dan kondisinya sekarang telah stabil. Namun hal yang terburuknya belum datang. Tak banyak obat anti kanker yang berefek pada kanker kantung empedu yang diderita Yeon Jae.
“Apa yang harus dilakukan?” tanya Ji Wook tegang.
“Kau perlu membuat keputusan. Menghentikan pengobatan atau menggunakan kemoterapi seperti kemarin. Ada beberapa percobaan klinis dari pengobatan terbaru. Akan ada 2 kemungkinan,” jelas Eun Suk.
“Pengobatan mana yang harus kami ambil?” tanya Seonsaengnim meminta pendapat Eun Suk.
“Ada keuntungan dan kerugiannya. Menghentikan kemoterapi dapat mencegah penurunan fisik. Sedangkan yang kedua, ada harapan untuk hasil yang lebih baik. Namun sulit untuk menghindari terulangnya kejadian hari ini. Untunglah suhu tubuhnya sudah menurun. Jika nanti demamnya sampai diatas 40 derajat, tidak ada yang bisa kita lakukan.”
Semua membeku mendengarkan penjelasan Eun Suk.

 

Sebagai dokter Eun Suk bersikap tegar di depan keluarga Yeon Jae. Namun sebenarnya hati Eun Suk juga sakit melihat kondisi Yeon Jae yang semakin memburuk. Ji Wook mendekati Eun Suk.
“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Ji Wook.
“Pilihan mana yang terbaik… Sebagai dokter, aku tak bisa mengatakannya dengan pasti. Tapi satu hal untuk memastikan…dia akan melewatinya, tak peduli mana yang kau pilih. Karena dia sudah melewati setiap hambatan sebelumnya,” ucap Eun Suk yakin.

 

Ibu Yeon Jae, Seonsaengnim dan Ji Wook menunggui Yeon Jae di kamar pasien. Yeon Jae mulai sadar.
“Apa kondisiku memburuk?” tanya Yeon Jae lemah.
“Tidak. Demammu sudah turun. Jadi tak ada masalah,” sahut ibu Yeon Jae menenangkan putrinya.
Ji Wook meminta ibu Yeon Jae dan Seonsaengnim pulang untuk beristirahat. Ji Wook sendiri yang akan menemani Yeon Jae.

 

Ibu Yeon Jae lemas. Diluar ia berjalan sempoyongan.
“Aku tak bisa memutuskan apapun,” lirihnya.
“Aku dan Yeon Jae yang akan memutuskan. Tolong tunggu keputusan kami sampai malam ini,” seru Ji Wook dari belakang.
Ibu Yeon Jae menoleh dan mengangguk setuju.
Eun Suk masuk ke kamar Yeon Jae. Yeon Jae tengah terlelap. Eun Suk mengingat lagi pertemuan-pertemuannya dengan Yeon Jae. Eun Suk menggenggam tangan Yeon Jae.

 

So Kyeong pergi ke Line Tour untuk meeting bersama Ji Wook. Namun So Kyeong hanya bertemu dengan Presiden Kang. Dari Presiden Kang, So Kyeong tahu Ji Wook berada di rumah sakit.

 

Joong Hee mulai mengkhawatirkan keadaan Yeon Jae. Ia bertanya pada Hye Won. Hye Won mengatakan jika demam Yeon Jae sudah turun, tapi kondisi Yeon Jae masih perlu dimonitori. Manager Noh juga tampak mengkhawatirkan Yeon Jae.
So Kyeong memberanikan diri menjenguk Yeon Jae ke rumah sakit. Ketika membuka pintu kamar, So Kyeong mendapati Ji Wook dan Yeon Jae sedang berpegangan tangan. So Kyeong agak jengah. So Kyeong meminta Ji Wook meninggalkan dirinya berdua dengan Yeon Jae. Ji Wook menoleh pada Yeon Jae.
“Tak apa-apa. Kau boleh pergi sekarang,” ucap Yeon Jae pada Ji Wook.

 

Begitu Ji Wook pergi, So Kyeong berjalan mendekat.
“Apa yang membawamu kesini?” tanya Yeon Jae.
“Karena aku merasa sedikit bersalah. Untuk apa yang aku katakan waktu itu, tunggu dan lihatlah. Aku minta maaf tentang insiden cincin. Bagaimanapun, waktu itu aku tak punya pilihan selain kesalahpahaman. Aku harap kau dapat mengerti,” ucap So Kyeong tulus.
“Kau masih seperti ini. Aku menyukainya,” komentar Yeon Jae.
So Kyeong tertawa. “Jaga dirimu. Aku pergi.”
“Im So Kyeong,” panggil Yeon Jae ketika So Kyeong hendak melangkah pergi. So Kyeong menoleh.
“Apakah kau menyukai Kang Ji Wook-ssi?”
“Jika iya, apa yang akan kau lakukan?” tantang So Kyeong.
“Aku tak akan menyerahkan dia. Selama aku masih ada, kau tak bisa memilikinya,” ucap Yeon Jae.
So Kyeong kembali tertawa.

 

Diluar So Kyeong menangis. Tebakan Yeon Jae benar, ia telah jatuh cinta pada Ji Wook. Tapi So Kyeong harus menerima kenyataan jika cintanya harus kembali patah. Bersaing dengan Yeon Jae tentulah bukan hal yang diinginkannya lagi. Melihat penderitaan Yeon Jae membuat So Kyeong perlahan mundur. Ia harus merelakan Ji Wook berada di sisi Yeon Jae yang jauh lebih membutuhkannya.
Ji Wook membaca 20 daftar keinginan Yeon Jae di ponselnya. Ji Wook berhenti pada list nomor 18. Tahun ini, Christmas time. Ini adalah boneka salju.
Ibu Yeon Jae juga tengah membaca buku daftar keinginan Yeon Jae. Ibu Yeon Jae menangis ketika membaca tulisan putrinya.
Eun Suk memeriksa kondisi Yeon Jae. Demam Yeon Jae sudah turun. Tiba-tiba Yeon Jae meminta maaf pada Eun Suk.
“Pasti tak menyenangkan karena kita bertemu sebagai teman lama dengan kondisi seperti ini? Mengapa justru aku datang ke rumah sakit ketika ada banyak pilihan?” sesal Yeon Jae.
“Lee Yeon Jae-ssi, jika kau merasa bersalah untuk itu, kau harus berjanji padaku untuk melakukan apa yang telah kita disepakati,” ingat Eun Suk.
“Untuk terus hidup?” tanya Yeon Jae. Eun Suk mengangguk. Yeon Jae juga menganggukkan kepala.

Ji Wook masuk. Ji Wook meminta izin Eun Suk untuk mengajak Yeon Jae berkencan.
“Bolehkan kami pergi berkencan? Tampaknya kami memerlukan persetujuan dokter?”

Ji Wook membawa Yeon Jae keluar. Yeon Jae duduk dalam kursi roda.
“Anggaplah hari ini adalah Christmas,” ucap Ji Wook sambil menyelimuti Yeon Jae.
Yeon Jae tertawa. “Itu konyol.”
“Ini akan menjadi white Christmas.”

Ji Wook mendorong kursi roda Yeon Jae keluar. Salju tiba-tiba turun. Ji Wook memutar lagu natal di ponselnya. Yeon Jae tersenyum senang. Ji Wook memutar, berjongkok di depan Yeon Jae.
“Apa kau kedinginan?”
“Apa yang terjadi disini?” tanya Yeon Jae.
“Ini adalah white Christmas,” seru Ji Wook.

 

Ji Wook mencium Yeon Jae ditengah siraman hujan salju. Yeon Jae menatap Ji Wook.
“Kau tahu tentang daftar keinginanku?” terka Yeon Jae.
“Jangan salah paham. Aku takut bahwa itu mungkin bukan salju saat natal. Jadi aku mempersiapkan ini duluan. Keinginanmu yang ke-18 akan menjadi kenyataan. Dari 20 daftar hanya tersisa 4. Kita akan bekerja keras untuk itu nanti. Nanti, nanti saja. Ketika waktu itu tiba, ayo kita mengambil cincin yang dikubur di bukit.”
Yeon Jae terharu. Yeon Jae memeluk Ji Wook, bersyukur mempunyai kekasih sebaik Ji Wook (Ngirinya….).
Yeon Jae kembali mendapat kejutan. Tanpa terduga Presiden Kang datang mengunjunginya. Presiden Kang tengah berbincang dengan ibunya dan Seonsaengnim ketika Ji Wook kembali membawanya ke kamar. Ji Wook juga terkejut dengan kemunculan ayahnya. Yeon Jae menundukkan kepala memberi hormat. Ji Wook terharu, akhirnya hati ayahnya luluh. Mata Ji Wook berkaca-kaca.

 

Ji Wook merebahkan tubuh Yeon Jae ke ranjang. Yeon Jae sudah kelelahan. Kemudian Ji Wook berbaring disamping Yeon Jae. Ji Wook menarik Yeon Jae ke dalam pelukannya.

“Ada 2 pilihan. Aku akan memilih salah satunya yang akan memberikan kita harapan,” ucap Ji Wook.
Yeon Jae setuju dengan apapun pilihan Ji Wook.

 

Yeon Jae bermimpi indah. Ia dan Ji Wook berjalan menuju altar. Di depan pendeta, mereka saling bertukar cincin kemudian berciuman.
“Seharusnya ini adalah mimpi. Karena ini adalah mimpi yang indah. Jadi aku ingin tidur sedikit lebih lama.”
Seonsaengnim menerima kiriman paket. Paket itu berasal dari Yeon Jae. Seonsaengnim membuka paket itu bersama ibu Yeon Jae. Mereka mendapat hadiah sepasang Couple T-Shirt. Di dalamnya ada sepucuk surat yang ditulis Yeon Jae.
“Di dalam hidupku yang berharga, orang-orang yang menghabiskan hidup bersamaku, aku berikan hadiah kecil untuk kalian.”
Hye Won yang perutnya sudah membesar mendapat sekotak perlengkapan bayi.
“Jangan seperti ayahmu, kau harus mirip dengan ibumu.”

 

Na Ri dan Joong Hee mendapat gaun mahal dan bando yang dipakai Yeon Jae ketika ibunya menikah. Na Ri dan Joong Hee membaca surat Yeon Jae bergantian. Mereka tersenyum.
“Selain penampilanmu yang cantik. Memiliki hati yang baik akan jauh lebih bagus.”

 

Kepala Bagian Yoon mendapat sebuah wig.
“Seperti selama di kelas Tango, aku harap kau juga mempunyai kepercayaan diri ketika bekerja.”
Kepala Bagian Yoon segera mencoba wig itu dengan sembunyi-sembunyi.

 

Rekan-rekan Yeon Jae di kelas Tango, masing-masing mendapat sepasang dancing shoes. Yeon Jae bahkan tahu ukuran sepatu mereka.
“Aku dengar bahwa mempunyai sepatu yang bagus akan membawa kebahagiaan. Jadi aku menghabiskan sedikit uang.”
Yeon Jae mengirim 2 botol maltose untuk Manager Noh.
“Simpanlah beberapa makanan manis. Itu bagus untuk tekanan darah tinggi.”
Manager Noh tersenyum.

 

Kakek penyewa rumah juga tak terlewat mendapat kiriman. Kakek mendapat boneka anjing berwarna putih.
“Malbok sehat dan hidup dengan baik di suatu tempat.”

 

Yeon Jae mengirim cincin berlian pemberian Wilson pada So Kyeong.
“Dengan cincin ini, kau akan mendapatkan seorang pria yang baik.”
So Kyeong tertawa.

 

Presiden Kang mendapat hadiah manset.
“Ji Wook yang memilihkan ini, bukan aku, ok!”

 

Eun Suk mendapat kiriman jas dokter dengan tulisan: Whoa, Poopy Suk telah menjadi dokter baik hati. Terimakasih sudah mau menjadi dokterku.
“Waktu yang kita habiskan bersama, itu adalah hidupku. Terimakasih kau ada disampingku.”
Eun Suk tersenyum lebar.

 

Buku 20 daftar keinginan terkahir Yeon Jae terbuka di atas meja. Daftar nomor 19-Melakukan semua hal bersama orang yang aku cintai. List itu sudah ditandai dengan icon smile. Ji Wook meraih buku itu dan membukanya pada lembar terakhir, list nomor 20-Dan akhirnya aku menutup mataku dalam pelukan orang yang kucintai. Ji Wook menambahkan icon smile dibawah pengharapan Yeon Jae dan menuliskan sesuatu disana.

 

Ji Wook berjalan ke arah kebun. Yeon Jae tengah asyik menanam bunga. Ji Wook dan Yeon Jae memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang ada dengan tinggal bersama.
“Apa yang kau lakukan?” Ji Wook mendekat.
“Aku sedang menanam bunga krisan. Untuk musim dingin,” jawab Yeon Jae.
“Jadi dia harus hidup sampai musim dingin agar bunganya mekar lebih indah.”
“Ya, betul.”

 

Yeon Jae berniat mendonorkan organ tubuhnya setelah dirinya meninggal dunia. Namun ia ditolak karena riwayat penyakitnya. Bahkan Yeon Jae tak bisa mendonorkan kornea matanya. Yeon Jae tampak sedih. Ji Wook menghibur Yeon Jae dengan mengajukan dirinya sendiri sebagai pendonor.

 

Yeon Jae dan Ji Wook pergi ke rumah sakit. Yeon Jae berbincang dengan seorang pasien anak-anak. Sementara itu Ji Wook dan Eun Suk duduk bersebelahan memandang ke arah Yeon Jae.
“Sepertinya pengobatan berjalan baik. Aku berpikir akan melanjutkannya,” cetus Eun Suk.
“Berapa lama dia mampu bertahan hidup?” tanya Ji Wook.
“Itu sudah merupakan keajaiban bahwa dia pulih sampai saat ini.”
“Meskipun jarang, keajaiban bisa terjadi, kan?” tanya Ji Wook.
“Ya, tentu saja,” jawab Eun Suk.

 

Yeon Jae mendekat.
“Apa yang kalian bicarakan berdua?” tanya Yeon Jae ingin tahu.
“Kami sedang bertengkar karena kami saling cemburu satu sama lain,” canda Eun Suk. Ji Wook tertawa geli, sedangkan Yeon Jae tersenyum malu.
Kakek sudah akrab dengan Sonsaengnim dan ibu Yeon Jae. Mereka kerap menghabiskan waktu dengan bermain catur. Yeon Jae dan Ji Wook berkunjung ke rumah. Ibu Yeon Jae sangat senang melihat kedatangan putrinya dan Ji Wook. Mereka saling berpelukan dengan riang. Disaat semua orang lengah, kakek hendak berbuat curang dengan mengambil bidak catur. Untung saja Yeon Jae melihat dan langsung menghardik kakek. Yeon Jae senyum-senyum melihat ulah si Kakek.

 

Ji Wook sudah semakin akrab dengan keluarga Yeon Jae. Ji Wook sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibu Yeon Jae dan Seonsaengnim. Yeon Jae tersenyum bahagia melihat kebersamaan mereka.

 

Yeon Jae berjalan ke tepi danau.
“Ini sudah lebih dari 6 bulan sejak aku didiagnosa mengidap kanker. Sejak saat itu, aku sudah hidup selama 7 bulan 2 hari. Aku tak tahu berapa lama aku akan bertahan hidup. Apakah untuk beberapa hari, beberapa bulan atau lebih… Itu sama sekali tidak penting. Aku hanya ingin hidup untuk hari ini. Untuk saat ini, untuk hari ini. Itu sudah cukup. Tanpa penyesalan.”
Yeon Jae membuka-buka buku list-nya. Yeon Jae menemukan tulisan Ji Wook dibagian terakhir list-nya. Yeon Jae tersenyum.
“Ini adalah harapan yang terpenuhi setiap hari. Karena kau jatuh tertidur di pelukanku setiap hari.”
Yeon Jae mulai menulis list ke-21.

 

Ji Wook muncul. Duduk disebelah Yeon Jae.
“Apa kau menulis daftar keinginanmu berikutnya?” tanyanya.
“Ya, aku memikirkan itu,” jawab Yeon Jae.
“Jika kau tak sakit, apakah hidupmu akan lebih baik dari sekarang?”
“Aku akan berlanjut menjadi si tua Lee Yeon Jae yang selalu ditindas dan tak berani berbicara. Aku tak akan punya keberanian untuk mendekatimu dan aku tak akan berpikir untuk membiarkan Eomma menikah lagi. Dan aku tak akan pergi berlibur. Berjuang dengan caraku untuk melewatinya sepanjang hari. Mungkin akan seperti itu. Hanya memimpikan kebahagiaan. Tapi, aku benar-benar bahagia sekarang.”

 

Yeon Jae menoleh pada Ji Wook.
“Apa yang harus kita lakukan besok?” tanyanya.
“Besok…” Ji Wook tampak berpikir. Kemudian merangkul Yeon Jae. “Hmm…apa yang harus kita lakukan besok?”
Kehidupan Yeon Jae masih terus berlanjut dan Ji Wook akan selalu berada disisinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: